----------------------------------------
| Kategori | : | Aqidah - Manhaj |
| Oleh | : | Syaikh DR. Ibrohim bin Amir ar Ruahili |
| Dikirim oleh | : | Abu Muslim alKatuniy |
| Sumber | : | www.abusalma.wordpress.com
|
----------------------------------------
BERSEDIHLAH
Koreksi DR. Ibrahim ar-Ruhaili terhadap buku Laa Tahzan dan pengarangnya serta pemikiran da'i kondang Salman Al-Audah dan Safar Hawali
Buku
Laa Tahzaan
(Jangan Bersedih/Don't Be Sad) yang ditulis oleh DR. Aidh al-Qorni
mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian kaum muslimin. Buku ini
katanya mendapatkan label "Best Seller", namun hal ini tidaklah
menunukkan akan kebaikan dan kebenaran buku ini termasuk pengarangnya.
Sebetulnya telah beberapa kali kami sampaikan tentang
penyimpangan-penyimpangan Salman al-'Audah, Safar Hawali dan Aidh
al-Qorni ini, tapi masih saja ada para pemujanya yang mendustakannya
dengan dalih dan alasan yang lebih lemah daripada sarang laba-laba.
Semisal ucapan mereka : tunjukkan kepada kami kesalahan.penyimpangan
yang terdapat pada buku
La Tahzan!!! Dan masih banyak lagi
alasan-alasan lainnya. Oleh karenanya pada edisi ini kami mengangkat
sebuah rubrik yang mudah-mudahan bisa menerangi hati para pengagum dan
fans Aidh al-Qorni, jika memang masih ada cahaya di hatinya.
Rubrik "Bersedihlah" ini diambil dari soal jawab dengan Prof. DR. Ibrahim bin
'Amir ar-Ruhaili, dosen fakultas Usuhuluddin, Universitas Islam
Madinah, KSA, pada saat Dauroh Syar'iyyah VI di Kebun Teh Agro-Wisata,
Lawang, Malang, yang diselenggarakan oleh Ma'had Ali Al-Irsyad
As-Salafi Surabaya. Soal Jawab ini ditranskrip oleh al-Akh 'Abdul
Muhsin dan diterjemahkan oleh al-Ustadz Imam Wahyudi, Lc.(Red.)
[artikel ini dimuat di
www.abusalma.wordpress.com]
Pertanyaan :
Kami mendengar bahwa para ulama salafiyyin memperingatkan dengan keras dari pemikiran-pemikiran Dr. Salman al-Audah, Dr. Safar al-Hawali, Dr. 'Aidh al-Qorni, serta yang semisal dengan mereka. Apakah sebenarnya kesalahan-kesalahan mereka, terlebih yang namanya disebutkan paling akhir (Aidh al-Qorni), karena buku-bukunya yang sudah diterjemahkan
tersebar luas di negeri kami ; seperti buku "
Laa Tahzan" (jangan bersedih).
Jawab :
Orang-orang yang telah disebutkan tadi memiliki berbagai penyimpangan
dalam banyak bidang, kita tidak mengatakan bahwa mereka tidak memiliki
kebenaran sama sekali. Beberapa waktu yang lalu, kaset-kaset mereka
yang berisi penjelasan atas beberapa buku banyak diminati masyarakat,
akan tetapi perkataan mereka banyak menyelisihi manhaj salaf.
Diantaranya adalah sikap mereka terhadap pemerintah, yaitu : plin plan,
terkadang menyebarkan dan membicarakan aib pemerintah, dan pada lain
waktu bersikap loyal dengan pemerintah.
Banyak
sekali perkataan di dalam buku-buku mereka bersumber dari perkataan
selain Ahlus sunnah, memberikan dalil atas pendapat mereka dengan
perkataan orang-orang yang menyelisihi Ahlus sunnah, bahkan terkadang
mereka mengambil perkataan para orentalis, seperti buku yang ditanyakan
diatas. Bagaimana mungkin seorang yang dikatakan berilmu agama dan
menisbatkan dirinya kepada sunnah, mengarang sebuah buku yang penuh
dengan nukilan dari kaum orintalis?!
Kemudian judulnya "
Laa Tahzan"
(jangan bersedih), maksudnya bersedih atas apa ? apakah maksudnya bahwa
manusia tidak boleh bersedih atas sesuatupun? Padahal kesedihan itu
sendiri, terkadang memiliki alasan-alasan yang dibenarkan oleh
syari'at, sehingga yang bersedih perlu bersabar dan mengharapkan pahala
atas kesabarannya tersebut.
Cara berdialog dengan manusia seperti ini, "
Laa Tahzan"
(jangan bersedih), kemudian obatnya adalah perkataan kaum orintalis?!
ini adalah bukti kedangkalan pemahamannya, seakan-akan al-Qur'an tidak
cukup bagi kita dan di dalamnya ada hal yang menjadikan kita bersedih,
sehingga kita perlu lari dari al-Qur'an dan as-Sunnah dan berpaling
kepada perkataan kaum orientalis!! Ini sangat berbahaya.
Oknum-oknum di atas memiliki banyak kesalahan, meskipun kesalahan mereka
berbeda-beda. 'Aidh al-Qorni adalah seorang sasterawan, terkadang
berbicara sesuai dengan aqidah Ahlus sunnah, dan pada kali yang lain
melontarkan pendapat yang amat berbahaya, bahkan sampai kepada derajat
kesyirikan serta beberapa istilah aneh. Saya pernah mendengar bait-bait
syairnya, isinya dekat dengan pemikiran penganut
wihdatul wujud (manunggaling
kawulo gusti), sebagian baitnya mendiskreditkan para sahabat dan
seterusnya dan masih banyak lagi keanehan-keanehannya
Orang ini tidak bisa menjaga lisan dan perkataannya, dan dari dulu terkenal sebagai seorang yang mudah sekali marah.
Oleh karena itu, kita tidak boleh terpengaruh dengan orang-orang seperti ini. Jika seseorang telah memahami ilmu agama dan metode para ulama, maka dia akan mengetahui bahwa orang-orang ini bukan berada diatas
jalannya para ulama. Kita juga tidak terus menerus menuduh niat-niatan manusia, akan tetapi inilah barang dagangan yang mereka tawarkan kepada manusia. Hendaklah kita berhati-hati terhadap perkataan mereka, dan kita kembali kepada perkataan para ulama yang mulia. Perkataan Ahlus sunnah, itulah yang bermanfaat bagi manusia. Allah telah mencukupkan kita dengan al-Qur'an dan as-Sunnah dari perkataan makhluk, akan tetapi perkataan para ulama yang mendekatkan pemahaman kita terhadap ilmu syari'at, baik berupa uraian maupun penjelasan panjang
lebar, serta pembahasan berbagai permasalahan, inilah yang lebih bermanfaat bagi manusia. Adapun yang orang-orang yang buku-bukunya berdasarkan perkataan selain Ahlus sunnah, bahkan dari penentang sunnah yaitu kalangan ahlul bid'ah, (maka wajib dijauhi -
pent). Sungguh perkataan mereka banyak bersumber dari perkataan Ahlul Bid'ah, semisal Sayyid Quthub dan Muhamad Quthub
Mereka itu (Salman cs.) secara terang-terangan menyatakan bahwa keduanya adalah ulama mereka, sebagian lagi menyatakan bahwa buku si Anu adalah buku yang paling baik, sebagian lagi menyatakan bahwa buku si Fulan adalah buku yang paling baik, sebagian lagi menyatakan dengan terang-terangan, bahwa ketika mereka berada di penjara, mereka banyak membaca serta menekuni buku-buku Sayyid Quthub.
Inilah
barang dagangan mereka, pemahaman mereka bukan hasil dari pendidikan di
atas manhaj yang benar, bahkan terpengaruh dengan sebagian ahlil
bid'ah, sehingga menghasilkan penyimpangan manhaj. Maka wajib bagi para
penuntut ilmu untuk menjauhi buku-buku tersebut, dan juga tidak boleh
membantu menyebarkanya, karena di dalamnya penuh dengan kesesatan dan
penyimpangan, walau mungkin saja didalamnya ada kebenaran. Akan tetapi
yang dimaksud, bukanlah adanya kebenaran dalam sebagian buku akan
tetapi yang dimaksud adalah, hendaklah buku tersebut bebas dari
kesalahan-kesalahn yang fatal.
Sungguh
saya mengatakan bahwa tiada seorangpun yang hatinya disinari oleh Allah
dengan Sunnah, ketika membaca perkataan mereka, mendengarkan
kaset-kaset mereka, serta banyak bersentuhan dengan buku-buku mereka,
pasti akan muncul dalam dirinya penolakan atas perkataan mereka, yaitu
orang yang hatinya disinari oleh Allah dengan ilmu agama dan sunnah.
Ketika
anda mendengarkan perkataan-perkataan Ibnu Baaz, Ibnu Utsaimin,
al-Albani, al-Fauzan dan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, mereka adalah
para ulama, niscaya anda akan mendapatkan ketenangan dari perkataan
para ulama tersebut, yang didukung oleh dalil-dalil, dalam bentuk
penjelasan, uraian, dan menentukan pendapat yang lebih kuat. Beda
dengan mereka, yang banyak perkataannya tidak berdasarkan dan tidak
merujuk kepada dalil-dalil.
Saya
teringat, suatu kali dalam salah satu koran, Salman menetapkan
dasar-dasar dan metode berdakwah, diantaranya dia menyebutkan point,
"Apakah jalur-jalur yang berdampingan itu?" Salman
mengatakan : "Sesungguhnya dakwahku dan dakwahmu tidak bertentangan,
hakikatnya hanyalah dua jalur dalam satu jalan", kemudian dia
mengatakan : "Bukanlah menjadi syarat dakwahku, agar selaras dengan
pikiran anda."
(Komentar Syaikh Ibrahim) : Dia membekali manusia dengan ungkapan-ungkapan yang
membius. Makna perkataannya : Dakwahku yang saya terapkan sekarang ini,
kenapa anda menginginkannya selaras dengan pikiran anda, sehingga bisa
sukses. Biarkanlah dakwah tersebut berjalan di satu jalur dan anda di jalur yang lain.
Ini adalah perkataan yang keliru, kami tidak mengatakan agar dakwah Salman
selaras dengan pikiran kita, akan tetapi hendaklah selaras dengan
al-Qur'an dan as-Sunnah. Kita bukan sedang membicarakan pikiran kita,
sampai-sampai anda (Salman) mengatakan istilah jalur-jalur yang
selaras, karena dalam dakwah hanya ada satu jalan.
Dan
bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka
ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain(,
Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang
demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (QS. Al-An'am : 153).
Dakwah
kami sekarang ini bukanlah bersumber dari pikiranku. Ketika saya
menyampaikannya, saya hanya menyebutkan dalil-dalil dari al-Qur'an dan
as-Sunnah.
Inilah
barang dagangan mereka. Dia (Salman) menyangka bahwa setiap da'i punya
pikiran, anda punya pikiran, saya punya pikiran dan setiap manusia
punya pikiran dalam dakwahnya. Inilah yang dia istilahkan dengan
jalur-jalur yang selaras, maksudnya : tidak saling bertentangan, semua
akan bermuara pada satu jalan. Ini suatu kesalahan.
Kemudian
dia menyebutkan beberapa aturan, diantaranya dia menyatakan : "Kita
tidak patut sibuk dengan kaum muslimin, sehingga menyebabkan kita lalai
dari Yahudi dan Nasrani, musuh kita yang hakiki."
(Komentar
Syaikh) : Aturan ini memiliki konsekwensi, yaitu agar kita tidak
membantah kelompok Jahmiyah, Mu'tazilah dan Asy'ariyah, demikian juga
kita tidak boleh menyebutkan perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam
tubuh kaum muslmin, sampai tuntasnya urusan kita dengan Yahudi dan
Nasrani.
Padahal,
Yahudi dan Nasrani ada sejak zaman Nabi Muhammad sampai zaman kita,
bahkan buku-buku ulama salaf yang dikarang untuk membantah ahlil
bid'ah, justru ketika Yahudi dan Nasrani masih eksis. Para ulama yang
mengarang bantahan terhadap Jahmiyah, Mu'tazilah, Asy'ariyah dan ahlil
bid'ah, mereka semua mengetahui (akan bahayanya) Yahudi dan Nasrani.
Kemudian tiba-tiba mereka (Salman cs.) mengatakan : Kami tidak akan
membicarakan para penentang sampai urusan kita Yahudi dan Nasrani
tuntas.
Inti
konsekwensi perkataan ini adalah, kita harus menghentikan dakwah sampai
bumi bersih dari Yahudi dan Nasrani. Padahal, kenyataan dalil-dalil
yang ada menunjukkan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tetap ada sampai
akhir zaman, bahkan jumlah mereka banyak.
Nabi
Shallallahu 'alaihi wa Salam
memberitakan, bahwa kalian akan memerangi Yahudi, sampai-sampai batu
dan pohon mengatakan : "Wahai muslim, dibelakangku ada seorang Yahudi,
bunuhlah dia." Dan kita juga tidak mengetahui kapan datangnya masa itu,
sehingga kita harus menghentikan dakwah kita sekarang ini, kita tidak
berbicara masalah aqidah, tidak membantah orang-orang yang meniadakan
nama dan sifat-sifat Allah, menyerupakan Allah dengan makhluk,
mengingkari takdir Allah, berpemikiran Murji'ah, mudah mengkafirkan
kaum muslimin. Kita tidak boleh berbicara sampai Yahudi dan Nasrani
sirna?! siapa yang mengatakan ini?! termasuk ulamakah?!!
Kemudian
Salman mengatakan : "Siapa yang bisa memberikan satu bukti kepada saya,
bahwa dia menguasai setiap permasalahan. " Lihatlah ungkapan yang dia
pilih! "menguasai setiap permasalahan". Yang dimaksud oleh Salman
adalah : Dakwah kita sekarang ini, kenapa setiap permasalahan yang dia
bicarakan, kalian (Salafiyun) ikut mengomentarinya?! Dan seandainya
sekarang dia mendengar perkataan ini, (niscaya kita gunakan juga
senjatanya,
pent.) kenapa anda mengomentari perkataanku?!
Tinggalkan perkataanku! Perkataan Salman ini bertentangan dengan
al-Qur'an dan as-Sunnah, dia mengatakan : "Siapa yang bisa memberikan
satu bukti kepada saya, bahwa dia menguasai setiap permasalahan. "?
Dalilnya sangat jelas, sabda Rosulullah
Shallallahu 'alaihi wa Salam :
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده , فإن لم يستطع فبلسنه وإن لم يستطع فبقلبه
Siapa
saja diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia
merubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisan. Jika
tidak mampu, maka dengan hatinya ". (HR Muslim)
Perkataan
yang disebarkan di koran ini, apakah suatu kesesatan atau kebenaran?
ini adalah suatu kesesatan, tidak boleh seseorang yang memiliki ilmu
agama lalu mendengar perkataan ini kemudian diam. Inilah dalil tentang
wajibnya seorang muslim untuk berbicara, ketika mengetahui suatu
kebatilan, serta memperingatkan manusia agar menjauhi ketika mengetahui
suatu kebatilan.
Saya
teringat diantara perkataannya, dia mengatakan : "Kita memiliki potensi
yang amat banyak, buktinya : ada seorang mengatakan suatu ide kemudian
ia mengarang sebuah buku, dicetak 3000 atau 6000 exemplar, kemudian ada
orang lain membantahnya sebanyak 6000 exemplar, kemudian apa hasilnya?
Hasilnya adalah nol!! menyia-nyiakan harta kaum muslimin!!!"
Apa
makna perkataanya?? Maknanya adalah, buku-buku bantahan itu adalah
kerugian. Orang yang lalai ini (Salman) tidak sadar, bahwa ketika
seorang menyebarkan diantara manusia 6000, 50.000 atau bahkan
berjuta-juta exemplar kebatilan, kemudian ada seorang yang
membantahnya, ini hasilnya bukan nol. Mereka tidak mengetahui, bahwa
bantahan itu akan memusnahkan bid'ah dan kesesatan yang tersebar
ditengah-tengah masyarakat. Mereka berbicara dengan suatu perkataan,
yang jika salah seorang awam dari kaum muslimin, yang memiliki fithroh
yang sehat, pasti dia mengetahui bahwa perkataan seperti ini adalah
suatu kebatilan.
Sebenarnya,
saya tidak banyak menyibukkan diri untuk mengamati perkataan-perkataan
mereka, saya tidak banyak mendengar kaset-kaset mereka, tidak banyak
membaca buku-buku mereka dan tidak pernah secara khusus memperhatikan
perkataan orang ini (Salman). Adapun jika saya benar-benar meneliti
perkataan mereka di dalam buku-buku mereka, niscaya akan saya dapati
hal-hal yang sangat berbahaya.
Maka
dari itu, saya nasehatkan kepada para penuntut ilmu, hendaklah ketika
mengkritik mereka, haruslah dengan dasar ilmu. Sebagaimana problematika
sebagian salafiyin yang tergesa-gesa mengomentari, mencela dan memaki,
dengan tanpa bukti. Manusia tidak akan menerima kritikan anda.
Jelaskan
kepada manusia, saya sekarang ini mengkritik Salman dari pembicaraannya
yang saya miliki sekarang ini, point-point yang kita sebutkan ada di
dalamnya, kemudian kami biarkan nash-nash al-Qur'an dan as-Sunnah
menghukuminya. Semua manusia akan menerima kritikan anda. Beda halnya
apabila kita mengkritik tanpa bukti, pasti manusia tidak akan mau
menerima komentar anda.
Orang-orang tersebut memiliki pendapat-pendapat (yang batil), maka berhati-hatilah dari buku yang berjudul "
Laa Tahzan"
(jangan bersedih), bacalah dulu, kemudian perhatikan isinya. Kalangan
penuntut ilmu agama yang paling awampun, ketika membaca buku ini, pasti
mengetahui kesesatan yang ada didalamnya. Kami katakan dengan
sebenarnya, bahwa mereka ini, sama saja, baik dia menginginkan kebaikan
atau tidak menginginkannya, perkara itu urusan Allah
'Azza wa Jalla.
Akan tetapi di dalam buku-buku dan kaset-kaset mereka ada muatan
penyimpangan aqidah dan manhaj Ahlusunnah yang amat besar. Maka dari
itu, kita harus berhati-hati dari buku-buku dan kaset-kaset yang telah
merusak sejumlah besar para pemuda. Mereka ini mudah sekali berubah
pendirian, setiap hari memakai metode yang baru.
Sampai-sampai,
diantara perkataan Salman yang paling akhir saya dengar di radio Saudi
Arabia, ketika ditanya tentang hukum perayaan maulid Nabi, dia menjawab
: di dalam perayaan Maulid Nabi banyak kebiasaan-kebiasaan yang tidak
baik dan kurang menjaga kebersihan. Maka penyiar radio –yang tidak
menekuni ilmu agama- berkata : Bukankah perayaan maulid itu tidak
dikenal pada zaman salaf ? Salman menjawab : iya, iya pendapat ini
benar.
Apakah
orang seperti ini, yang sekarang dielu-elukan oleh banyak pemuda untuk
menduduki kedudukan Imam Ahlus Sunnah?! padahal dia tidak mengetahui
hukum perayaan maulid?! ini sangat merepotkan, kita tidak mengetahui
apa yang diinginkan oleh orang-orang ini?! Apakah mereka ingin
berbasa-basi dengan ahlul bid'ah, yaitu dalam metode mereka yang
terbaru, setelah sebelumnya mereka bersikap sangat keras, bahkan
mengeluarkan vonis bid'ah, kufur, kemudian sekarang mereka tinggalkan
semua itu??!!
Sebelumnya, mereka pernah menyatakan bahwa pemerintah Arab Saudi telah kafir, karena membolehkan
tabarruj
dan memberikan kebebasan kepada kaum wanita, sekarang mereka
memperbolehkan wanita menyetir mobil dan membuka hijab (cadar). Mereka
menyatakan bahwa hukum wanita menyetir mobil tidak ada dalam surat ini
dan itu, sebagian mereka menyatakan, diantaranya 'Aidh al-Qorni : hukum
hijab sekarang ini telah jelas, bahwa wanita yang membuka wajahnya
(tidak memakai cadar) hukumnya tidak mengapa.
Ini terlepas dari perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini.
Akan tetapi yang menjadi titik permasalahan adalah ketidakmenentuaan
pendirian mereka. Kemarin bersikap keras, sekarang
menggampang-gampangkan. Kemarin mengkafirkan Rofidhoh,
menyatakan bahwa pemerintah (Arab Saudi) berbasa-basi dengan Rofidhoh,
sekarang berbalik menuntut pemerintah untuk membuka sekolah-sekolah
Rofidhoh serta duduk berdampingan bersama mereka.
Saya
mendengar komentar Salman yang terakhir, kira-kira seminggu yang lalu
ketika ia ditanya tentang Iraq. Ia mengatakan : "tidak sepatutnya kita
memecah belah kaum muslimin di sana, karena kaum muslimin senantiasa
hidup berdampingan antara ahlus sunnah dan syia'h
dalam kurun waktu yang begitu lama."
(Komentar
Syaikh Ibrahim) Apa makna 'hidup berdampingan'? dan siapakah dari
kalangan awam sekarang ini yang memahami (rahasia) perkataan ini?!
Kenapa dia menipu kaum muslimin dan menipu ahlus sunnah?! Komentar yang
aneh ini sekarang benar-benar ada.
Saya
secara pribadi, sebagaimana yang telah saya sampaikan, tidaklah
menyibukkan diri untuk mengamati perkataan-perkataan mereka, atau
mendengarkan kaset-kaset mereka, dan tidak juga membaca buku-buku
mereka. Akan tetapi yang saya komentari ini, hanyalah sesuatu yang
kadang-kadang saya dengar dari radio. Seandainya ada orang yang secara
khusus mengamati perkataan mereka, kemudian mengkritik dan mengeluarkan
darinya point-point yang menyelisihi aqidah ahlus sunnah, maka pasti
dia akan banyak mendapatkannya.
Maka
dari itu, saya peringatkan dengan keras para penuntut ilmu yang
memahami sunnah, yang diberi anugerah hidayah oleh Alloh, serta yang
mengetahui aqidah ahlus sunnah agar mereka berhati-hati dari tipu daya
orang-orang seperti mereka ini. Dan kami juga tidak menuntut kepada
para penuntut ilmu tersebut untuk bersikap keras secara berlebihan,
dengan menuduh mereka sebagai orang-orang zindiq (munafik kelas kakap).
Demi
Alloh kami tidak mengatakan dan berkomentar demikian, akan tetapi yang
kami katakan adalah, bahwa ada kebodohan di dalam diri mereka, atau di
dalam diri mereka terdapat bid'ah-bid'ah dan penyimpangan-penyimpangan.
Adapun perkara mereka tahu atau tidak tahu, itu kembali kepada Alloh.
Demikian juga perkara mereka memiliki niatan yang jelek, itu juga
kembali kepada Alloh. Adapun berdasarkan perkataan mereka yang sudah
tersebar, maka di dalamnya mengandung bid'ah-bid'ah, kesesatan dan
penyimpangan dari aqidah ahlus sunnah. Bahkan wajib bagi penuntut ilmu
agar berhati-hati terhadap mereka.
Metode
yang ditempuh oleh para ulama sudah sangat dikenal, demikian pula
keselamatan manhaj mereka dari penyimpangan. Seorang yang masih hidup
di kalangan para ulama tidak memiliki sikap yang berbeda-beda (dalam
satu permasalahan yang sama), yakni sering berubah-ubah, seperti yang
mereka istilahkan "berubah sesuai dengan zaman dan keadaan." Perubahan
sikap para ulama, hanyalah pada masalah-masalah yang mungkin fatwa bisa
disesuaikan menurut kejadian-kejadian kontemporer, bukan dalam bentuk
"kemarin bersikap keras dalam satu permasalahan, dan sekarang berubah
menjadi sikap lembek dalam perkara yang sama."
Sebelumnya
mereka (Salman cs.) mencela habis-habisan siapa saja yang berinteraksi
dengan orang-orang yang menyimpang, bahkan sampai-sampai mereka
bersikap begitu keras atas dasar apa yang mereka istilahkan "diam atas
Rofidhoh", padahal umat ini tidak tinggal diam untuk menghadapi
Rofidhoh. Negara ini beserta para ulamanya senantiasa berupaya untuk
membantah Rofidhoh, akan tetapi dengan ilmu dan hikmah. Dan sekarang
ini, mereka beralih menuntut dibukanya sekolah-sekolah Rofidhoh, dan
memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertindak bebas di dalam
sekolah-sekolah mereka. Jadi, sangat bertolak belakang dengan sikap
pertama mereka yang begitu ekstrem.
Ada
sebuah fitnah yang saya dengar dari sebuah kaset orang-orang ini, saya
tidak tahu, yang berbicara itu Salman atau yang lainnya. Dia mengatakan
kepada sebagian pengikutnya dalam bentuk provokasi dengan
mengisyaratkan kebengisan tentara seraya mengatakan : "Saya tidak takut
terhadap bala tentara, saya juga tidak takut bahaya atas kalian yang
timbul dari bala tentara, akan tetapi saya khawatir bala tentara dari
kalian."
Sekarang
dia menyerukan toleransi, mengajak agar semua fihak yang saling
berselisih untuk saling memaklumi. Kemudian dia mengeluarkan sebuah
kaset, "
kaifa nakhtalifu" (bagaimana kita berselisih?).
Dikatakan di dalamnya : "Seyogyanya kita berlapang dada di dalam
menghadapi perbedaan, hendaknya kita juga mau mendengarkan semua
pendapat, serta janganlah kita bersikap keras terhadap orang-orang yang
menyelisihi kita." Kemudian dia menukilkan perkataan para ulama salaf
tentang bagaimana menyikapi perbedaan pendapat yang terjadi diantara
para ulama dan imam yang empat. Setelah itu dia membawa
perkataan-perkataan tersebut dan dipakai untuk menentukan sikap
terhadap perselisihan yang terjadi antara ahlus sunnah dengan ahlil
bid'ah.
Ini adalah perkataan yang sangat berbahaya yang terkandung di dalam buku "
kaifa Nakhtalif".
Dan ini dibagi-bagikan dalam bentuk kaset dan buku dengan cetakan yang
paling lux. Inilah upaya membangun pondasi pikiran-pikiran ini, yaitu
pondasi untuk membangun bid'ah-bid'ah dan kesesatan. Fenomena ini amat
jelas ketika seorang pemula dari penuntut ilmu membaca buku tersebut,
pasti bisa mengetahui kesesatan yang terkandung di dalamnya.
Saya
merasa heran, bagaimana perkara seperti ini bisa tidak tampak bagi para
senior penuntut ilmu dan orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada
ahlus sunnah?!! Bagaimana kebenaran seperti ini bisa tersembunyi di
hadapan mereka?!!
Maka
dari itu, kami tekankan terus menerus bahwa ketika kita berbicara dan
mengajak bicara ahlus sunnah, kita menggunakan cara berkomunikasi
tersendiri. Kami katakan kepada mereka : "bersatulah kalian di atas
kebenaran dan tinggalkanlah perselisihan yang memecah belah kalian,
karena kalian semua adalah ahlus sunnah." Akan tetapi apabila kita
menghadapi perselisihan antara ahlus sunnah dengan ahlul bid'ah, maka
perselisihan seperti ini bentuknya berbeda. Sehingga terus menerus kita
tekankan, bahwa dalam kita berbicara dan menerapkan berbagai hukum
dalam permasalahan, haruslah jelas dan sesuai dengan ketetapan
nash-nash. Kita tidak mungkin membawa perkataan para ulama salaf
tentang cinta kasih diantara mereka : "Kita berselisih dan berbeda
pendapat, akan tetapi perbedaan kita ini tidak boleh menggambarkan
perpecahan diantara kita." Kemudian kita aplikasikan perkataan para
ulama salaf ini di dalam perselisihan antara ahlus sunnah dengan
Rofidhoh.
Bukti
yang terpenting adalah, bahwa di dalam banyak perkataan mereka yang
amat menyimpang, meskipun dengan adil kita katakan, bahwa derajat
penyimpangan individu-individu ini tidak dalam satu tingkatan. Akan
tetapi yang terpenting adalah, kita waspada terhadap manhaj dan metode
mereka, serta menjauhi syubhta-syubhat kemudian kembali kepada
perkataan para ulama yang kita kenal keselamatan aqidah dan manhajnya
dari penyimpangan. Inilah prinsip dasar menurut ahlus sunnah.
[Berlanjut dengan sesi tanya jawab. Silakan baca transkrip terjemah sesi tanya jawab ini secara panjang lebar membicarakan hal yang sama di dalam
Majalah adz-Dzakhiirah, vol. 5, No. 2, edisi 27, tahun 1428H.]
 |
 |
 |
 |